Perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia; Upaya Menghapus Stigma

Izi Health | 15 Oct 2021

Perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia dan upaya kita untuk menghapus stigma di tengah-tengah masyarakat

 

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin manusa berada dalam keadaan tenteram dan tenang. Bila seseorang memiliki mental yang sehat, baik secara fisik, mental, spiritual serta sosial, maka ia dapat memiliki hubungan yang positif dengan orang lain dan memiliki hidup yang produktif.

Kesehatan mental masih terus jadi pekerjaan rumah di Indonesia, masih ada stigma yang harus dipatahkan dan dihapus dari tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, kesehatan mental harus terus digaungkan. Salah satu upaya sosialisasi adalah turut serta memeriahkan dan merayakan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Hari Kesehatan Mental Sedunia dirayakan tiap tanggal 10 Oktober, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tema peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini adalah Mental Health Care for all: let’s make it a reality atau “Perawatan Kesehatan Mental untuk Semua: Mari Kita Wujudkan”

Lewat laman WHO ditemukan latar belakang munculnya tema ini berangkat dari pandemi Covid-19 yang berdampak besar pada berbagai aspek, terutama kesehatan masyarakat mulai dari tenaga kesehatan, pelajar, warga yang tinggal sendiri, sangat terpengaruh selama pandemi.

Sejarah Hari Kesehatan Mental Sedunia

Lewat informasi yang dirangkum dari situs resmi World Federation for Mental Health (WFMH), Hari Kesehatan Mental Sedunia untuk pertama kali diperingati pada tanggal 10 Oktober 1992. Hari itu pula dimulai sebagai kegiatan tahunan Federasi Kesehatan Mental Dunia oleh Wakil Sekretaris Jenderal Richard Hunter pada saat itu. Kemudian resmi diperingati setiap tahun di tanggal 10 Oktober.

Pada awalnya, peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia tidak memiliki tema yang spesifik, hal ini dilakukan untuk mempromosikan advokasi kesehatan mental dan mendidik masyarakat tentang isu-isu relevan.

Diikuti 3 tahun pertama, salah satu kegiatan utama perayaan Hari Kesehatan Mental Sedunia adalah dengan siaran televisi selama dua jam secara global melalui sistem satelit badan informasi AS dari studio Talahassee, Florida.

Anggota Dewan WFMH berpartisipasi dari studio dan partisipasi telepon lansung dari Australia, Chili, Inggris dan Zambia serta segmen pra rekaman dari Jenewa, Atlanta dan Mexico. Acara ini juga berhasil menjangkau lebih jauh karena ada panggilan telepon yang tidak terduga serta tidak terjadwal dari Swaziland, tempat di mana sekelompok anggota WFMH berkumpul untuk melihat program. Tahun itu pula terdapat banyak umpan balik yang datang dari Peru.

Tahun 1994, “Improving the Quality of Mental Health Services throughout the World.” atau “Meningkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia.”

Kemudian dihadirkan tema-tema berbeda setiap tahunnya dengan berbagai perayaan di berbagai negara.

Kasus gangguan mental di Indonesia

Di Indonesia sendiri menurut Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6,1% dari jumlah penduduk Indonesia atau setara dengan 11 juta orang.

Di usia ini (15-24 tahun) persentase depresi sebesar 6,2% yang berpotensi muncul akibat beberapa hal seperti tekanan dari bidang akademik, perundungan (bullying), faktor keluarga, dan permasalahan ekonomi.

Depresi ini kemudian dibagi kembali, ada depresi berat yang penderitanya cenderung melakukan self harm atau keinginan untuk menyakiti diri sendiri hingga percobaan untuk bunuh diri. Sebesar 80-90% kasus bunuh diri merupakan akibat dari depresi dan kecemasan. Kasus bunuh diri di Indonesia sendiri bisa mencapai 10.000.

Langkah-langkah menjaga kesehatan mental

Beberapa ciri-ciri depresi yang bisa kita lihat pada seseorang atau mengenalinya bila terjadi pada diri sendiri:

  • Merasa tidak berharga dan sering membenci diri sendiri
  • Mudah marah
  • Sering berpikiran negatif
  • Sering menangis
  • Merasa cemas dan khawatir berlebih
  • Suasana hati buruk atau sedih yang terjadi secara berkepanjangan

Bila gejala-gejala ini muncul pada seseorang atau pada diri sendiri, akan berdampak pada terhambatnya aktivitas dan menurunnya kualitas fisik.

Untuk mencegah terjadinya stress, dan depresi baik ringan dan berat pada seseorang, ada beberapa langkah menjaga kesehatan mental yang dapat dilakukan, namun langkah ini pun tetap bergantung pada cara masing-masing individu untuk mengola stress yang dihadapi, seperti:

  • Mindfullness – sadar diri, upaya ini dapat dilakukan dengan cara meditasi
  • Refreshing dengan melakukan hal yang disukai
  • Mendekatkan diri secara spiritual
  • Mengelola stress dengan melakukan pekerjaan yang disukai seperti hobi,
  • Bercerita pada orang lain
  • Olahraga
  • Mengambil layanan konsultasi psikologi untuk mendapatkan pertolongan.
  • Berpegang teguh pada pemahaman bahwa kesehatan fisik dan mental sama pentingnya, dan untuk mendapatkan kesembuhan yang total, dibutuhkan bantuan pakar, dan hal tersebut BUKANLAH sebuah kesalahan atau aib. 

Layanan konsultasi psikologi online kini banyak ditemukan dan mudah sekali untuk didapatkan. Kamu juga bisa dapatkan konsultasi kesehatan mentalmu dengan psikolog berpengalam di IziHealth.

Upaya menghapus stigma dan diskriminasi

Penderita gangguan jiwa sering mendapatkan stigma dan diskriminasi yang lebih besar dari masyarakat dibandingkan individu yang menderita penyakit medis, contohnya dikeluarkan dari sekolah, jadi bahan cemoohan, diberhentikan dari pekerjaan, dianggap sebagai aib, ditelantarkan keluarga, dianggap gila, dan yang paling parah adalah dipasung.

Di Indonesia sendiri, pemahaman tentang kesehatan mental masih tergolong rendah. Salah satu indikasinya adalah dengan masih banyaknya kasus pemasungan orang dengan gangguan jiwa, yakni sebesar 14% pasung seumur hidup dan 31,5% dipasung selama 3 bulan terakhir. Selain itu, ada 91% masyarakat yang mengalami gangguan jiwa yang tidak ditangani dengan baik.

Akibatnya, mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental cenderung susah terbuka akan pengobatan dan merasa tertekan dengan stigma masyarakat.

Menghapus stigma dan diskriminasi ini masih terus menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat di Indonesia. Para Stakeholder saling bergandeng tangan bersama-sama menghadirkan berbagai solusi.

  1. Menghadirkan layanan konsultasi online dengan Psikolog sehinga penderita berkesempatan mendapatkan bantuan dengan cara yang cepat dan efisien. Hal ini juga yang dilakukan IziHealth dengan menggandeng [email protected] yang akan diluncurkan tak lama lagi
  2. Terus memberikan edukasi secara offline maupun online demi pemerataan informasi terkait gangguan kesehatan mental yang sebetulnya bisa disembuhkan
  3. Pemerintah Kabupaten Demak misalnya, melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Demak berinisiatif menetapkan Program Demak Bebas Pasung dan Pengentasan Kemiskinan dengan membentuk tim pelaksana yang anggotanya terdiri dari unsur Kecamatan, Koramil, Polsek, Puskesmas, Kemenag Kecamatan dan Desa untuk mendeteksi Orang dengan Gangguan Jiwa agar segera mendapatkan penanganan.

Sumber-sumber:

https://wfmh.global/world-mental-health-day/

https://egsa.geo.ugm.ac.id/2020/11/27/darurat-kesehatan-mental-bagi-remaja/

https://dinkominfo.demakkab.go.id/berita/detail/hilangkan-stigma-diskriminasi-dan-marginalitas-demak-canangkan-bebas-pasung